Minggu, 12 Desember 2010

PLUTO DIKELUARKAN DARI DAFTAR PLANET

Pluto Mantan Planet

 



 



Pada tahun 2006 Pluto sudah tidak menyandang gelar sebagai planet lagi. Pada acara sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) di Praha, ibu kota Republik Ceko, para astronom mengumumkan perubahan status Pluto sebagai planet. Para astronom sepakat Pluto statusnya bukan merupakan planet lagi, walaupun masih mempunyai sebutan “planet kerdil” (dwarf planet). hal ini disebabkan Pluto mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan kedelapan planet dalam tata surya.
The trajectory of the New Horizons probe to Pluto.
pada 7 September 2006 nama Pluto diganti dengan nomor saja, yaitu 134340. Pada 1978 Pluto diketahui memiliki satelit yang berukuran tidak terlalu kecil darinya bernama Charon(ini yang saya pelajari ketika masih sekolah). Kemudian pada tahun 2005 ditemukan lagi satelit lainnya, Nix dan Hydra.
Sejarah Penemuan
Pluto ditemukan pada tanggal 18 Februari 1930 oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell. Pluto kemudian menjadi salah satu anggota tata surya yang paling kontroversial (saingan ma Dewi Persik ni.hehe). Penemuan Pluto sebenarnya tidak lepas dari penemuan Neptunus, ketika itu diketahui bahwa orbit Neptunus tidak sama tepat dari yang diperoleh dari perhitungan. Dari ketidak sesuaian inilah, para astronom menduga adanya planet X sebagai objek yang bertanggung jawab gangguan orbit yang terjadi.
Mr. Lowell adalah astronom pertama yang mencoba menemukan planet hipotesis ini.  Namun Mr. Lowell ini gagal menemuka planet yang dia cari-cari. Hingga akhirnya Mr. Tombaugh memperoleh foto-foto pada daerah langit tempat benda langit itudiperkirakan berada. Dia membandingan foto-foto yang dia ambil beberapa minggu sebelumnya, dan terlihat sebuah objek yang bergerak relatif terhadap bintang-bintang. Mr. Tombaugh pin yakin bahwa dirinya telah menemukan benda langit yang mempengaruhi orbit dari Neptunus tersebut. Menariknya, penemuan tersebut belum bisa menjawab keanehan dalam orbit Neptunus. Massa Pluto terlalu kecil untuk dapat dianggap sebagai objek yang bertanggung jawab atas perbedaan tersebut.
Pemberian Nama
Tentang nama yang diberikan kepada planet inipun tak kalah uniknya. Pluto adalah nama Dewa yang menguasai dunia kematian dalam mitologi Romawi (dikenal juga sebagai Hades dalam mitologi Yunani). Meskipun banyak yang menawarkan nama, penghargaan diberikan kepada Venetia Burnry, seorang gadis kecil berusia 11 tahun asal Inggris. Nama pilihan ini berhasil menyingkirkan nama-nama lain yang diusulkan, seperti Minerva (Dewa Ilmu Pengetahuan). Saking hebohnya, mengispirasi Walt Disney untuk memberi nama anjing peliharaan Mickey Mouse dengan nama serupa.

 

Planet Pluto Goes poof: Penelitian

    
* Pluto Planet Goes poof
    
* Penelitian
    
* Link
Pada tahun 2000, bahkan sebelum Eris telah muncul di tempat kejadian, Museum Sejarah Alam Amerika Hayden Planetarium membuka pameran baru di delapan planet-Pluto jelas dikecualikan. Sisanya adalah sejarah. Pada bulan Agustus tahun 2006, International Astronomical Union (IAU) didefinisikan ulang "planet" sebagai berikut.

    
* Objek harus di orbit sekitar Matahari.
    
* Objek harus cukup besar bahwa itu adalah hampir bulat (yaitu, berada dalam kesetimbangan hidrostatik).
    
* Objek harus memiliki dibersihkan orbit objek lain.
Lintasan probe Horizons Baru Pluto.
Lintasan probe Horizons Baru Pluto. (Gambar kredit: JHU / APL)
The "orbit matahari" persyaratan menghilangkan bulan, seperti bulan besar Jupiter.
The "hampir bulat" kebutuhan menghilangkan gravitasi benda kecil yang tidak cukup kuat untuk mengatasi kekuatan antara batu atau es dan menghasilkan permukaan yang bulat, yang memiliki energi gravitasi terendah.
The "jelas orbitnya" persyaratan sama dengan mengatakan bahwa planet jauh lebih besar dari apa pun di sekitar, dalam hal ini gravitasi yang relatif kuat memang akan menyapu obyek tetangga. Bahkan, Ceres dan asteroid beberapa lainnya yang awalnya diklasifikasikan sebagai planet, sebelum para astronom menyadari bahwa mereka semua bagian dari koleksi besar benda-benda dengan orbit yang sama.
The IAU juga menciptakan sebuah kategori baru, "planet kerdil," bagi mereka benda-benda yang memenuhi dua persyaratan pertama di atas tetapi belum membersihkan lingkungan mereka objek lain. Pluto jatuh ke dalam berbagai kategori karena Obyek Sabuk Kuiper di lingkungan nya. Seiring dengan Pluto, kategori planet kerdil termasuk Eris dan Ceres.
Apapun masalah masih tetap tentang status Pluto, adalah objek penting dalam tata surya dan merupakan subjek penelitian, meskipun probe ada belum mencapai itu. Pada bulan Januari 2006 pesawat ruang angkasa New Horizons meluncur untuk perjalanan panjang untuk Pluto (lihat gambar lintasan), dengan pendekatan terdekat pada bulan Juli 2015, pada jarak 10.300 km (6200 mi).


Selamat Tinggal Pluto

Mulai Kamis (24/8) jangan pernah terpeleset mengucapkan Planet Pluto. Karena sejak hari itu, Pluto sudah tidak lagi berhak menyandang predikat sebagai planet.


Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceko, yang berakhir 25 Agustus, menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di Tata Surya kita. Mulai sekarang, anggota Tata Surya hanya terdiri dari delapan planet, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.





Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjadi anggota Keluarga Planet Tata Surya selama 76 tahun merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A Sidang Umum IAU Ke-26 berisi definisi baru itu.





Dalam resolusi tersebut dinyatakan, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat,
1. yakni mengorbit Matahari,
2. berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat,
3. memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut).


Definisi tersebut adalah definisi universal pertama tentang planet sejak istilah planet dikenal di kalangan astronom, bahkan sebelum era Nicolaus Copernicus yang tahun 1543 membuktikan Bumi adalah salah satu planet yang berputar mengelilingi Matahari.


Dengan definisi baru tersebut, Pluto tidak berhak menyandang nama planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan Matahari dibandingkan Neptunus.


Planet Kerdil (BOGEL)




Pluto kemudian masuk dalam keluarga baru yang disebut planet kerdil atau planet katai (dwarf planets). Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda langit lain di Tata Surya yang mirip dengan Pluto, termasuk di dalamnya asteroid terbesar Ceres, satelit Pluto, Charon, dan beberapa benda langit lain yang baru saja ditemukan.


Menurut Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, Dr Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum IAU tersebut adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung sejak awal 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.


"Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet," ungkap astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini.


Selain itu, perkembangan teknologi teleskop juga membawa pada penemuan berbagai benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO). Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari.


Beberapa KBO(kuiper Black Object) sangat menarik perhatian karena berukuran hampir sama atau bahkan lebih besar daripada Pluto (diameter 2.300 km) dan ada yang memiliki satelit atau "bulan". Beberapa obyek tersebut, antara lain, Quaoar (diameter 1.000 km-1.300 km), Sedna (1.180 km- 1.800 km), dan yang paling terkenal adalah obyek bernama 2003 UB313 yang ditemukan Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) pada 2003 lalu. Obyek yang dijuluki Xena tersebut memiliki diameter 2.400 km, yang berarti lebih besar daripada Pluto. Xena sempat dihebohkan sebagai planet ke-10 Tata Surya.


Sejak saat itu, lanjut Taufiq, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. "Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati," tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.


Kesepakatan itu sendiri bukannya datang dengan mudah. Taufiq mengatakan, pengambilan keputusan itu bahkan dicapai dengan cara pemungutan suara di antara para anggota IAU yang hadir setelah didahului perdebatan yang sangat sengit. Empat astronom senior dari Indonesia turut serta (Indonesia Ikutan Juga Broo..) dalam Sidang Umum IAU tersebut, yakni Jorga Ibrahim, Iratius Radiman, Suryadi Siregar, dan Ny Permana Permadi.


Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA, New Horizon, yang diluncurkan ke Pluto, Januari lalu, mengaku merasa "malu" terhadap keputusan itu. Meski demikian, misi senilai 700 juta dollar AS dan baru akan tiba di Pluto pada 2015 itu tetap akan dilanjutkan. "Ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh.




pencopotan Gelar


Wajar saja pencopotan gelar planet dari Pluto memicu reaksi yang emosional. Pluto selama ini memiliki tempat tersendiri di hati para astronom, baik yang profesional maupun amatir. Pluto sering dianggap "Si Bungsu dari Tata Surya" karena jaraknya yang terjauh dari Matahari dan ditemukan paling akhir dibandingkan delapan planet lainnya.


Orbit Pluto yang sangat lonjong dan tidak sejajar dengan bidang lintasan planet lainnya juga membuat planet ini unik. Pluto juga sempat dianggap sebagai jawaban dari misteri Planet X, sebuah planet hipotetis yang diduga ada di luar orbit Neptunus dan menyebabkan gangguan pada orbit planet Uranus dan Neptunus. Meski ukuran Pluto kemudian terbukti terlalu kecil untuk menjadi Planet X, dugaan tersebut menjadi bagian dari legenda Pluto


sumber : http://kotakgame.com/forums/showthread.php?t=3659


Read more: Selamat Tinggal Pluto - Asal Kamu Tahu Aja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar